Seni dan Budaya Desa Wisata Pulesari yang Masih Terjaga

Desa wisata yang menarik bukan hanya desa yang punya pemandangan bagus. Lebih dari itu, desa wisata yang benar-benar berkesan biasanya punya cerita, tradisi, dan budaya yang hidup di tengah masyarakatnya.

Hal inilah yang bisa ditemukan di Desa Wisata Pulesari, sebuah kampung wisata di kawasan Wonokerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seni dan budaya Desa Wisata Pulesari masih terjaga karena tidak hanya dijadikan tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan warga.

Ada Tari Salak yang lahir dari potensi salak pondoh, Kubro Siswo, jathilan, karawitan, hadroh, Bregada Pager Bumi, tradisi sadranan, sampai Upacara Adat Pager Bumi yang rutin dilakukan masyarakat.

Menariknya, budaya di Pulesari tidak terasa kaku atau jauh dari wisatawan. Banyak kegiatan dikemas secara ringan dan edukatif, sehingga pengunjung bisa belajar membatik, bermain gamelan, menari, membuat janur, hingga mengenal tradisi desa secara langsung.

Inilah yang membuat Pulesari bukan hanya tempat liburan, tetapi juga ruang belajar budaya yang hangat.

Mengenal Desa Wisata Pulesari sebagai Kampung Budaya

Desa Wisata Pulesari berada di Pulesari, Wonokerto, Turi, Kabupaten Sleman. Portal Jadesta Kementerian Pariwisata menggambarkan Pulesari sebagai kawasan pedesaan di lereng Merapi sebelah barat dengan branding wisata alam dan budaya tradisi.

Atraksinya mencakup wisata air, trekking sungai, outbound, serta kegiatan budaya yang berasal dari kebiasaan masyarakat setempat. Kondisi alam Pulesari ikut membentuk karakter budayanya.

Dusun ini berada di kaki atau lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 400 sampai 900 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya didominasi karakter pertanian, sehingga kehidupan masyarakat dekat dengan kebun, air, tanah, dan tradisi agraris.

Dari lingkungan seperti itulah budaya Pulesari tumbuh. Kesenian lokal tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari kehidupan sehari-hari warga.

Salak menjadi tari, pertanian menjadi edukasi, tradisi syukur menjadi upacara adat, dan kegiatan sosial masyarakat menjadi pengalaman wisata.

Karena itu, saat membahas seni dan budaya Desa Wisata Pulesari, kita sebenarnya sedang membahas cara masyarakat menjaga identitasnya. Desa ini berkembang mengikuti zaman, tetapi tetap berusaha mempertahankan akar budaya lokal.

Tari Salak, Kesenian yang Lahir dari Potensi Lokal

Salah satu kesenian paling khas di Pulesari adalah Tari Salak. Sesuai namanya, tarian ini terinspirasi dari salak pondoh, komoditas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Turi dan Pulesari.

Dalam laman resmi Desa Wisata Pulesari, Tari Salak dijelaskan sebagai wujud tarian masyarakat dari potensi salak pondoh yang ada di Dusun Pulesari.

Tarian ini dikembangkan menjadi daya tarik seni tersendiri, dengan formasi penari laki-laki pembawa tandu salak, penari burung sebagai simbol hama tanaman, dan penari perempuan sebagai penari latar.

Menariknya, Tari Salak bukan sekadar hiburan. Tarian ini bisa dibaca sebagai cara masyarakat bercerita tentang kehidupan mereka. Ada petani, ada tanaman, ada hama, ada kerja keras, dan ada hasil bumi yang patut disyukuri.

Bagi wisatawan, Tari Salak menjadi pengantar yang mudah dipahami untuk mengenal Pulesari. Tanpa harus membaca sejarah panjang, pengunjung sudah bisa menangkap bahwa salak adalah bagian penting dari identitas desa ini.

Kubro Siswo, Jathilan, dan Karawitan yang Menghidupkan Suasana Desa

Selain Tari Salak, Pulesari juga dikenal dengan beberapa kesenian lokal seperti Kubro Siswo, jathilan, dan karawitan.

Detik Travel mencatat bahwa penduduk Pulesari masih memiliki tradisi dan budaya yang asli, termasuk Upacara Adat Pager Bumi, Kubro Siswo, Tari Salak, jathilan, dan karawitan.

1. Kubro Siswo sebagai Ekspresi Seni Rakyat

Kubro Siswo merupakan seni pertunjukan rakyat yang sering dikaitkan dengan gerak tari, irama musik, dan nuansa religius. Di Pulesari, kesenian ini menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memperkuat suasana kampung wisata.

Kesenian seperti Kubro Siswo punya peran penting dalam menjaga kebersamaan. Biasanya, pertunjukan melibatkan banyak orang, baik sebagai penari, pemain musik, pengatur acara, maupun penonton.

Dari sini, budaya tidak hanya menjadi milik seniman, tetapi milik masyarakat.

2. Jathilan dan Daya Tarik Tradisi Jawa

Jathilan juga menjadi bagian dari kesenian yang dikenal di Pulesari. Kesenian ini identik dengan tarian berkuda kepang dan iringan musik tradisional.

Bagi banyak wisatawan, jathilan punya daya tarik kuat karena gerakannya energik, suasananya meriah, dan nuansa tradisi Jawanya terasa kental.

Dalam konteks desa wisata, jathilan bukan hanya pertunjukan. Ia menjadi jembatan antara generasi tua dan muda. Anak muda yang ikut terlibat dalam seni tradisional belajar bahwa budaya kampung bisa tetap keren, asal diberi ruang untuk hidup.

3.Karawitan sebagai Napas Musik Tradisional

Karawitan memberi warna yang lebih lembut dalam kehidupan budaya Pulesari. Irama gamelan, tembang, dan suasana pertunjukan tradisional membuat desa terasa lebih hidup.

Karawitan juga sering menjadi bagian penting dalam acara budaya, penyambutan tamu, atau kegiatan wisata edukasi.

Melalui karawitan, wisatawan bisa merasakan sisi lain dari desa. Bukan hanya bermain air dan outbound, tetapi juga mendengar bunyi-bunyi tradisional yang menjadi bagian dari budaya Jawa.

Upacara Adat Pager Bumi, Tradisi Syukur Warga Pulesari

Salah satu tradisi paling penting di Pulesari adalah Upacara Adat Pager Bumi. Tradisi ini menjadi kegiatan rutin tahunan setiap bulan Sapar sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang diberikan kepada masyarakat.

Upacara Adat Pager Bumi juga dikenal sebagai Sedekah Sapar Rebo Wekasan. Tradisi ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat bagi warga setempat.

Selain itu, upacara ini juga dilakukan untuk memperingati Khoul Nyai Pulesari dan Kyai Ahmad Nurrohman.

Dalam pelaksanaannya, kirab budaya Pager Bumi berlangsung dari halaman Masjid Darussalam menuju Makam Pulesari dengan jarak sekitar 1,5 kilometer.

Berbagai kelompok seni dan budaya ikut memeriahkan kirab, mulai dari Bregada Pager Bumi, pembawa pusaka, pembawa gunungan, bregada tani, penari Kubro Siswo, sampai kelompok seni lainnya.

Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa budaya Pulesari bukan hanya soal panggung. Ada nilai spiritual, sejarah, rasa syukur, dan kebersamaan yang terus dijaga.

Bagi wisatawan, melihat tradisi seperti Pager Bumi bisa menjadi pengalaman yang berbeda karena mereka menyaksikan budaya yang benar-benar hidup di masyarakat.

Bregada Pager Bumi dan Simbol Penjaga Tradisi

Dalam rangkaian budaya Pulesari, Bregada Pager Bumi juga punya posisi menarik.

Bregada atau prajurit ini digambarkan sebagai barisan yang dilatih khusus, terinspirasi dari tradisi kerajaan masa lalu, lalu dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat Dusun Pulesari untuk mengiringi upacara adat dan kegiatan budaya.

Bregada Pager Bumi biasanya ditempatkan di barisan utama untuk mengawal acara dan rombongan. Secara visual, kehadirannya membuat suasana kirab lebih kuat, rapi, dan berwibawa.

Namun, maknanya tidak berhenti pada tampilan. Bregada bisa dipahami sebagai simbol penjagaan. Ia seolah menjadi pengingat bahwa budaya perlu “dipagari” atau dijaga bersama, agar tidak hilang ditelan zaman.

Bagi generasi muda, ikut dalam bregada bisa menjadi cara belajar disiplin, tanggung jawab, dan rasa bangga pada kampung sendiri. Inilah salah satu bentuk pelestarian budaya yang tidak hanya berbicara, tetapi langsung dipraktikkan.

Hadroh, Sadranan, dan Warna Religi dalam Budaya Pulesari

Budaya Pulesari juga memiliki warna religi yang kuat. Salah satunya terlihat dari kesenian hadroh atau sholawat.

Laman resmi Desa Wisata Pulesari menjelaskan hadroh sebagai kesenian religi bernuansa Islami dengan lantunan sholawat Nabi, yang sering dipentaskan dalam acara pengajian, pernikahan, kelahiran bayi, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.

Selain hadroh, ada juga tradisi Sadranan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ruwah menjelang bulan puasa. Kegiatan dilakukan di makam atau halaman kuburan dengan rangkaian tahlilan dan pengajian.

Secara makna, Sadranan menjadi wujud bakti kepada orang-orang yang telah mendahului dengan cara mendoakan mereka.

Tradisi religi seperti ini memperlihatkan bahwa budaya desa tidak berdiri sendiri. Ia menyatu dengan kepercayaan, hubungan keluarga, penghormatan kepada leluhur, dan kehidupan sosial masyarakat.

Bagi pengunjung, sisi religi ini memberi pemahaman bahwa Pulesari bukan sekadar tempat wisata. Desa ini adalah ruang hidup warga, tempat nilai-nilai spiritual dan sosial masih dijaga dalam kegiatan sehari-hari.

Budaya Tradisi sebagai Daya Tarik Wisata Edukasi

Salah satu kekuatan Pulesari adalah kemampuannya mengemas budaya menjadi wisata edukasi. Jadesta mencatat bahwa Desa Wisata Pulesari menawarkan kegiatan pendukung seperti belajar membatik, belajar gamelan, belajar menari, belajar janur, membajak sawah, dan menanam padi.

Konsep ini menarik karena wisatawan tidak hanya menonton. Mereka bisa ikut mencoba. Anak-anak sekolah, keluarga, komunitas, atau rombongan perusahaan bisa belajar langsung dari warga lokal.

Misalnya, dalam kegiatan belajar gamelan, wisatawan tidak harus menjadi ahli musik. Mereka cukup mengenal alat, mencoba memukul nada, dan merasakan bagaimana kerja sama diperlukan dalam satu kelompok musik tradisional.

Dalam belajar janur, pengunjung bisa memahami bahwa benda sederhana dari daun kelapa ternyata punya nilai estetika dan fungsi dalam budaya Jawa.

Website Kalurahan Wonokerto juga menegaskan bahwa Desa Wisata Pulesari menyajikan wisata alam dan budaya tradisi dengan tujuan melestarikan nilai budaya masyarakat agar tidak hilang oleh modernisasi.

Dengan cara ini, budaya tidak hanya disimpan sebagai masa lalu. Ia menjadi pengalaman masa kini yang bisa dirasakan langsung oleh wisatawan.

Seni Budaya dan Peran Masyarakat Lokal

Seni dan budaya Pulesari masih terjaga karena masyarakatnya terlibat langsung. Ada warga yang menjadi penari, pemain gamelan, pemandu budaya, pembuat kuliner, pelaku homestay, pengelola acara adat, hingga generasi muda yang ikut meramaikan kegiatan desa.

Pulesari juga dikenal sebagai desa yang dibangun dengan semangat kebersamaan. Situs resmi desa wisata menyebut masyarakat Pulesari memiliki semangat gotong royong dalam mengolah seni dan budaya, salah satunya terlihat dari kegiatan rutin tahunan Upacara Adat Pager Bumi.

Inilah yang membuat budaya Pulesari terasa kuat. Ia bukan hanya proyek pariwisata, melainkan bagian dari kehidupan warga. Ketika ada acara adat, banyak orang terlibat. Ketika ada tamu datang, warga ikut menyambut. Ketika ada kegiatan seni, generasi muda ikut belajar.

Model seperti ini penting untuk desa wisata. Sebab, jika budaya hanya dijadikan pajangan, lama-lama akan kehilangan makna. Tetapi ketika budaya tetap dijalankan oleh masyarakat, ia punya peluang lebih besar untuk bertahan.

Mengapa Seni dan Budaya Pulesari Layak Dikunjungi?

Ada beberapa alasan mengapa seni dan budaya Desa Wisata Pulesari layak masuk agenda liburan. Pertama, budayanya masih dekat dengan kehidupan warga. Wisatawan tidak hanya melihat pertunjukan buatan, tetapi menyaksikan tradisi yang memang dijalankan masyarakat.

Kedua, aktivitasnya ramah untuk berbagai usia. Anak-anak bisa belajar membatik, menari, bermain gamelan, membuat janur, atau mengenal upacara adat dengan cara yang ringan. Orang dewasa bisa menikmati suasana desa, pertunjukan seni, kuliner lokal, dan cerita masyarakat.

Ketiga, budaya Pulesari menyatu dengan alam. Setelah mengikuti kegiatan seni atau tradisi, wisatawan masih bisa menikmati trekking sungai, outbound, kebun salak, homestay, dan suasana pedesaan di lereng Merapi.

Keempat, Pulesari memberi pengalaman yang lebih bermakna. Wisatawan tidak hanya pulang dengan foto, tetapi juga cerita tentang salak, tradisi syukur, musik gamelan, tari rakyat, dan keramahan warga desa.

Tips Menikmati Wisata Budaya di Pulesari

Agar pengalaman berkunjung lebih maksimal, sebaiknya wisatawan mencari informasi jadwal kegiatan budaya terlebih dahulu. Beberapa tradisi seperti Pager Bumi dan Sadranan memiliki waktu pelaksanaan tertentu, sehingga tidak bisa ditemui setiap hari.

Untuk rombongan sekolah atau komunitas, paket edukasi budaya bisa menjadi pilihan menarik. Kegiatan seperti belajar menari, gamelan, membatik, dan janur cocok untuk membangun pengalaman yang interaktif.

Saat mengikuti tradisi atau acara adat, pengunjung sebaiknya menjaga sikap. Hormati aturan lokal, jangan mengganggu prosesi, dan minta izin jika ingin mengambil foto orang atau bagian tertentu dari upacara.

Dengan sikap yang tepat, wisata budaya di Pulesari akan terasa lebih nyaman, baik bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.

Seni dan budaya Desa Wisata Pulesari masih terjaga karena tumbuh dari kehidupan masyarakatnya sendiri.

Tari Salak, Kubro Siswo, jathilan, karawitan, hadroh, Bregada Pager Bumi, Sadranan, dan Upacara Adat Pager Bumi bukan hanya atraksi wisata, tetapi bagian dari identitas warga lereng Merapi.

Keunikan Pulesari ada pada kemampuannya menggabungkan budaya, alam, edukasi, dan keramahan masyarakat. Wisatawan bisa melihat pertunjukan, belajar tradisi, bermain di alam, sekaligus merasakan suasana desa yang hangat.

Jika kamu ingin mengenal Jogja dari sisi yang lebih lokal dan bermakna, Desa Wisata Pulesari layak masuk daftar kunjungan berikutnya.

FAQ

1. Apa saja seni dan budaya yang ada di Desa Wisata Pulesari?

Beberapa seni dan budaya Pulesari antara lain Tari Salak, Kubro Siswo, jathilan, karawitan, hadroh, Bregada Pager Bumi, Sadranan, dan Upacara Adat Pager Bumi.

2. Apa itu Tari Salak Pulesari?

Tari Salak adalah tarian khas Pulesari yang terinspirasi dari potensi salak pondoh. Tarian ini menggambarkan hubungan masyarakat dengan kebun salak sebagai identitas lokal.

3. Kapan Upacara Adat Pager Bumi dilaksanakan?

Upacara Adat Pager Bumi dilaksanakan setiap bulan Sapar, tepatnya pada tradisi Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan.

4. Apakah wisatawan bisa belajar budaya di Pulesari?

Ya. Wisatawan bisa mengikuti kegiatan edukasi seperti belajar membatik, gamelan, menari, membuat janur, membajak sawah, dan menanam padi.

5. Mengapa budaya Pulesari masih terjaga?

Karena masyarakat lokal masih aktif menjalankan tradisi, melibatkan generasi muda, dan mengemas budaya sebagai bagian dari wisata edukasi tanpa menghilangkan makna aslinya.