Kehidupan masyarakat desa selalu punya cerita yang menarik untuk dibaca. Ada perubahan yang terjadi pelan-pelan, ada juga yang datang karena peristiwa besar.
Begitu pula dengan kehidupan masyarakat Pulesari, sebuah kampung di Wonokerto, Turi, Sleman, yang kini dikenal sebagai Desa Wisata Pulesari. Dulu, Pulesari adalah kampung agraris yang hidup dekat dengan tanah, kebun salak, sungai, dan tradisi masyarakat lereng Merapi.
Warga menjalani hari dengan ritme sederhana: bertani, merawat kebun, menjaga hubungan sosial, serta meneruskan budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Seiring waktu, Pulesari berubah. Setelah melewati tantangan alam, termasuk erupsi Merapi 2010, masyarakat mulai melihat potensi kampungnya dari sudut pandang baru.
Sungai, kebun salak, kesenian, kuliner, dan rumah warga kemudian dikembangkan menjadi daya tarik wisata berbasis masyarakat. Dari sinilah cerita Pulesari menjadi lebih luas: bukan hanya tentang desa yang bertahan, tetapi juga desa yang bergerak maju.
Mengenal Pulesari sebagai Kampung di Lereng Merapi
Pulesari berada di Dusun Pulesari, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Secara geografis, dusun ini berada di kaki atau lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar 400 sampai 900 meter di atas permukaan laut, sehingga sebagian besar wilayahnya memiliki karakter pertanian.
Letak ini membuat kehidupan masyarakat Pulesari sangat dekat dengan alam. Udara yang relatif sejuk, tanah subur, aliran sungai, dan kebun salak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Alam bukan hanya latar belakang, tetapi sumber kehidupan.
Dalam portal Jadesta Kementerian Pariwisata, Desa Wisata Pulesari disebut sebagai kawasan pedesaan di lereng Merapi sebelah barat yang mengembangkan wisata alam dan budaya tradisi.
Kegiatan yang ditawarkan meliputi trekking sungai, outbound, serta aktivitas budaya yang berasal dari kebiasaan masyarakat setempat.
Dari gambaran ini, kita bisa memahami bahwa Pulesari bukan desa wisata yang muncul tiba-tiba. Identitas wisatanya tumbuh dari kehidupan warga yang sudah ada sejak lama.
Masa Agraris: Ketika Salak Menjadi Sumber Penghidupan
Sebelum dikenal sebagai desa wisata, kehidupan masyarakat Pulesari sangat lekat dengan pertanian. Kebun salak menjadi salah satu bagian paling penting dalam ekonomi warga. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari merawat tanaman, memanen buah, dan menjual salak.
Sebuah kajian tentang Community Based Tourism di Pulesari mencatat bahwa pada masa awal perintisan desa wisata, perekonomian masyarakat masih didominasi oleh petani, khususnya petani salak, dengan persentase sekitar 52 persen.
Kehidupan agraris seperti ini membentuk karakter masyarakat yang sabar, tekun, dan dekat dengan musim. Petani salak tidak bisa memaksa alam. Mereka harus memahami tanah, air, cuaca, hama, dan waktu panen.
Dari kebun salak pula lahir banyak cerita keluarga. Ada orang tua yang mengajarkan anaknya cara merawat tanaman. Ada warga yang bekerja bersama saat panen. Ada pula tradisi saling bantu ketika pekerjaan di kebun sedang banyak.
Dalam kehidupan desa, kebun bukan hanya tempat mencari nafkah. Kebun juga menjadi ruang belajar, ruang interaksi, dan bagian dari identitas kampung.
Sungai, Kebun, dan Ritme Sosial Masyarakat
Selain kebun salak, sungai juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Pulesari. Wilayah Pulesari disebut diapit oleh alur Sungai Bedog di sisi timur dan barat, sehingga lanskap alamnya sangat mendukung aktivitas pedesaan dan wisata alam.
Bagi masyarakat desa, sungai punya banyak fungsi. Ia menjadi bagian dari sistem alam, mendukung pertanian, dan pada masa lalu sering menjadi ruang bermain anak-anak. Suara air, bebatuan, pepohonan, dan jalan kecil di sekitar sungai membentuk suasana kampung yang khas.
Ritme sosial masyarakat Pulesari juga tumbuh dari ruang-ruang semacam ini. Orang saling mengenal bukan hanya karena bertetangga, tetapi karena sering bertemu di kebun, jalan kampung, pendopo, sungai, atau acara adat.
Kehidupan desa seperti Pulesari biasanya tidak terlalu individual. Warga terbiasa saling menyapa, membantu tetangga, dan berkumpul ketika ada kegiatan bersama. Nilai inilah yang kemudian menjadi modal sosial penting saat Pulesari mulai membangun desa wisata.
Erupsi Merapi 2010 dan Titik Balik Kehidupan Warga
Salah satu fase penting dalam kehidupan masyarakat Pulesari adalah erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Dalam kajian Community Based Tourism, erupsi Merapi disebut membuat masyarakat Pulesari harus mengungsi dan meninggalkan kampung mereka.
Peristiwa itu juga melumpuhkan ekonomi warga, sehingga kesejahteraan ikut terdampak.
Bencana tentu membawa luka. Warga harus menghadapi kerusakan lingkungan, kehilangan rasa aman, dan ketidakpastian ekonomi. Namun dari situ, muncul juga kesadaran baru bahwa kampung harus bangkit.
Menariknya, ide pengembangan Desa Wisata Pulesari muncul dari keprihatinan terhadap kondisi kampung pascaerupsi. Kajian tersebut menyebut adanya tokoh masyarakat yang memprakarsai gagasan desa wisata, lalu ide itu dibawa ke forum rembug warga.
Dari sini terlihat bahwa perubahan Pulesari bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal mentalitas. Masyarakat yang sebelumnya fokus pada pertanian mulai belajar melihat kampungnya sebagai ruang yang punya nilai wisata, edukasi, dan budaya.
Dari Gotong Royong Menjadi Desa Wisata
Setelah muncul gagasan desa wisata, masyarakat Pulesari tidak langsung berjalan mulus. Sebagian warga sempat ragu karena belum memahami konsep desa wisata dan belum tahu apa yang bisa dijadikan daya tarik.
Namun melalui musyawarah, pembinaan, dan kerja bersama, perencanaan mulai dilakukan secara gotong royong.
Website resmi Desa Wisata Pulesari menjelaskan bahwa desa wisata ini berdiri dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Konsep pariwisata mulai dicanangkan pada 26 Mei 2012, kemudian diresmikan pada 9 November 2012 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.
Gotong royong menjadi kunci besar dalam fase ini. Warga memperbaiki lingkungan, membuat atraksi, menyediakan fasilitas, menyiapkan homestay, membangun sistem pelayanan, dan membentuk tim pengelola.
Perubahan Cara Melihat Kampung
Dulu, sungai mungkin hanya dianggap bagian biasa dari alam desa. Kebun salak dianggap lahan kerja sehari-hari. Rumah warga hanya menjadi tempat tinggal. Namun setelah konsep wisata berkembang, semua itu berubah menjadi potensi.
Sungai dikemas menjadi trekking. Kebun salak menjadi agrowisata. Rumah warga menjadi homestay. Kuliner rumahan menjadi sajian khas desa. Tradisi masyarakat menjadi atraksi budaya.
Perubahan cara melihat inilah yang membuat Pulesari bergerak maju tanpa harus kehilangan akar kampungnya.
Perubahan Ekonomi: Bertani Sekaligus Mengelola Wisata
Kehidupan masyarakat Pulesari mengalami perubahan ekonomi setelah desa wisata berkembang. Namun perubahan ini tidak berarti warga meninggalkan pertanian sepenuhnya.
Banyak warga tetap menjadi petani salak, tetapi mulai memiliki pekerjaan tambahan di sektor wisata.
Kajian Community Based Tourism mencatat bahwa setelah Desa Wisata Pulesari berkembang, masyarakat mulai memiliki pekerjaan sampingan di sektor wisata, dan pengembangan tersebut membantu meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan warga.
Peran warga menjadi lebih beragam. Ada yang menjadi pemandu trekking sungai, pengelola outbound, pemilik homestay, penyedia konsumsi, pelaku UMKM olahan salak, pengisi kesenian, hingga pengelola parkir dan fasilitas.
Bagi masyarakat desa, sumber pendapatan tambahan seperti ini penting. Ketika hasil pertanian sedang tidak maksimal, sektor wisata bisa membantu menopang ekonomi keluarga. Sebaliknya, ketika wisata sepi, kebun salak tetap menjadi pegangan hidup.
Model seperti ini membuat kehidupan masyarakat Pulesari lebih adaptif. Mereka tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan, tetapi menggabungkan pertanian, jasa wisata, kuliner, dan budaya lokal.
Budaya Tradisi yang Tetap Dijaga
Perubahan ekonomi tidak membuat Pulesari meninggalkan budaya. Justru budaya menjadi bagian penting dalam identitas desa wisata.
Website Kalurahan Wonokerto menyebut Desa Wisata Pulesari menyajikan wisata alam dan budaya tradisi, dengan tujuan melestarikan nilai budaya masyarakat agar tidak hilang oleh modernisasi.
Budaya di Pulesari tidak hanya berupa pertunjukan. Ia hidup dalam cara warga berinteraksi, cara menyambut tamu, cara bermusyawarah, dan cara menjaga kampung.
Beberapa kesenian dan tradisi Pulesari yang disebut dalam kajian CBT antara lain Tari Salak, Kubro Siswo atau Putro Madu, hadroh atau sholawatan, bergodo atau prajurit, tradisi sadranan, dan upacara adat Pager Bumi.
Budaya sebagai Pengikat Generasi
Budaya punya peran penting bagi generasi muda. Ketika anak muda ikut menari, bermain musik tradisional, menjadi pemandu, atau membantu acara adat, mereka sedang belajar mengenal kampungnya sendiri.
Di sisi lain, wisatawan juga mendapat pengalaman yang lebih bermakna. Mereka tidak hanya melihat alam, tetapi juga mengenal nilai sosial dan budaya masyarakat Pulesari.
Inilah yang membuat desa wisata terasa berbeda dari tempat wisata biasa. Ada cerita, nilai, dan manusia di balik setiap aktivitas.
Kehidupan Sosial di Era Desa Wisata
Setelah menjadi desa wisata, kehidupan sosial masyarakat Pulesari ikut berubah. Warga semakin sering berinteraksi dengan tamu dari luar daerah.
Mereka belajar melayani wisatawan, menjelaskan cerita desa, mengatur jadwal kegiatan, hingga menjaga kualitas pengalaman pengunjung.
Dalam penelitian tentang perubahan kultural masyarakat Pulesari, topik perubahan budaya masyarakat desa wisata dibahas sebagai studi kasus di Dusun Pulesari, Wonokerto, Turi, Sleman.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan desa wisata menjadi faktor penting dalam perubahan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Perubahan sosial ini terlihat dari meningkatnya keterampilan warga. Mereka belajar komunikasi, manajemen acara, kebersihan layanan, pengelolaan homestay, promosi, dan kerja tim.
Namun, perubahan ini juga perlu dijaga agar tidak menghilangkan kenyamanan warga. Desa wisata yang baik bukan hanya ramai pengunjung, tetapi juga tetap nyaman untuk ditinggali. Karena itu, keseimbangan antara kepentingan wisata dan kehidupan masyarakat menjadi hal penting.
Pulesari Hari Ini: Desa yang Belajar Terus Berkembang
Kini Pulesari dikenal sebagai desa wisata alam, budaya, dan edukasi.
Artikel Joglo Jateng menyebut Pulesari sebagai destinasi di kaki Gunung Merapi yang menawarkan suasana sejuk dan asri, sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun wilayah pedesaan sebagai kawasan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Kehidupan masyarakat Pulesari hari ini adalah gabungan antara tradisi dan adaptasi. Warga masih dekat dengan salak, sungai, dan budaya desa.
Namun mereka juga mulai akrab dengan reservasi wisata, media sosial, paket kegiatan, homestay, dan kunjungan rombongan.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa desa bisa berkembang tanpa harus menjadi kota. Pulesari tetap menjadi kampung, tetapi kampung yang lebih percaya diri dengan potensinya.
Yang menarik, kekuatan Pulesari justru ada pada kesederhanaannya. Wisatawan datang bukan hanya untuk bermain air atau melihat kebun salak, tetapi juga untuk merasakan kehidupan desa yang hangat dan manusiawi.
Tantangan Kehidupan Masyarakat Pulesari ke Depan
Setiap kemajuan pasti membawa tantangan. Bagi Pulesari, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara wisata, lingkungan, budaya, dan kenyamanan warga.
Jika wisata terlalu ramai tanpa pengelolaan yang baik, sungai bisa terganggu, sampah meningkat, dan kehidupan warga menjadi kurang nyaman. Jika budaya hanya dijadikan tontonan tanpa makna, generasi muda bisa kehilangan kedalaman nilai tradisi.
Karena itu, masyarakat Pulesari perlu terus menjaga prinsip awal: wisata harus tumbuh dari masyarakat dan kembali memberi manfaat bagi masyarakat.
Alam harus dimanfaatkan sewajarnya, budaya harus dilestarikan, dan ekonomi warga harus tetap menjadi tujuan utama.
Dengan modal gotong royong, pengalaman, dan identitas yang kuat, Pulesari punya peluang besar untuk terus berkembang sebagai desa wisata yang berkelanjutan.
Kehidupan masyarakat Pulesari dari masa ke masa adalah cerita tentang perubahan yang berakar pada alam, salak, sungai, budaya, dan gotong royong.
Dari kampung agraris di lereng Merapi, Pulesari tumbuh menjadi desa wisata yang dikenal karena wisata alam, edukasi, homestay, kuliner, dan tradisi masyarakatnya.
Perubahan besar terjadi setelah warga bangkit dari tantangan pascaerupsi Merapi dan mulai mengembangkan potensi lokal sebagai desa wisata. Meski begitu, identitas Pulesari tetap kuat sebagai kampung yang ramah, alami, dan dekat dengan nilai kebersamaan.
Kalau kamu ingin melihat bagaimana sebuah desa bisa berkembang tanpa kehilangan jati diri, datanglah ke Desa Wisata Pulesari. Nikmati alamnya, sapa warganya, dan rasakan sendiri cerita kehidupan desa yang terus bergerak dari masa ke masa.
FAQ
1. Di mana lokasi Desa Wisata Pulesari?
Desa Wisata Pulesari berada di Dusun Pulesari, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Apa mata pencaharian utama masyarakat Pulesari dulu?
Masyarakat Pulesari sejak lama dikenal dekat dengan pertanian, terutama kebun salak. Setelah desa wisata berkembang, banyak warga tetap bertani sambil terlibat dalam sektor wisata.
3. Kapan Pulesari resmi menjadi desa wisata?
Konsep pariwisata Pulesari mulai dicanangkan pada 26 Mei 2012, lalu diresmikan pada 9 November 2012 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.
4. Apa perubahan terbesar dalam kehidupan masyarakat Pulesari?
Perubahan terbesarnya adalah dari kehidupan agraris murni menuju ekonomi desa yang lebih beragam, dengan tambahan aktivitas wisata seperti homestay, pemanduan, kuliner, outbound, dan agrowisata salak.
5. Mengapa Pulesari cocok disebut desa wisata berbasis masyarakat?
Karena pengembangan wisatanya lahir dari inisiatif warga, dikelola oleh masyarakat lokal, dan manfaatnya diarahkan untuk meningkatkan ekonomi serta menjaga budaya desa.